Sedikit keluh malam ini, semoga kalian berkenan unuk membacanya.
Putar lagu ini dulu biar bacanya makin berasa: Nadin Amizah — Taruh 🎧
Setiap kali isi kepalaku overload, adaaaa saja impuls random yang
mendadak lewat. Di tengah riuh dan bisingnya pikiran yang rasanya bikin kepala
mau pecah, mendadak ada suara impulsif yang nyeletuk gitu aja, salah satunya KEPENGEN
NDUE BOJOðŸ˜
🤣: “aku capekk, mau nikah aja”, “aku mau ikut suami ajaaa”, “aku
keselll, pengen cepet-cepet punya suami aja”, dann kalimat serupa lainnya,
yang mesti nangkring di kepala pas penyakit pengen ndue bojo ini kambuh.
Mau ngerasa aneh, tapi ini beneran nyata terjadi 😠Kedengarannya
emang kaya konyol banget, tapi kalau dirunut perlahan, keinginan itu bukan
muncul karena aku kebelet ganti status, gak gituuuuu. Itu cuma bentuk jeritan
halus dari dalam diri yang lagi capek-capeknya sama sekitar, capek sama keadaan.
Di kepalaku, gambaran tentang sosok suami dan sebuah pernikahan
selalu sesederhana ini: aku cuma butuh satu tempat pulang yang aman sentosa.
Sebuah safe space tempat melarikan diri setelah seharian harus berpura-pura
kuat di luar sana.
Aku mendambakan sosok suami yang bener-bener mengerti dan paham
luar-dalam bagaimana sikap dan sifatku, seseorang yang paham kapan aku butuh
dipeluk, kapan harus diberi ruang, dan paham cara meredakan kerumitanku tanpa
pernah bikin aku merasa bersalah atau merasa "terlalu merepotkan"
dengan segala isi kepalaku. Sosok suami dengan ketenangan batin dan emotional
intelligence yang tinggi; tempat mengadu ke seorang manusia yang rahasianya ga
akan bocor ke mana-mana, penampung segala cerita dari yang paling penting sampai
yang paling konyol tanpa takut di-judge, dan rumah tenang untuk beristirahat
tanpa pernah merasa sendirian lagi.
Sosok suami yang kuidamkan bukan sekadar pasangan, tapi sahabat
terbaik yang menghargai kemandirianku, sekaligus berbisik pelan bahwa sekarang
aku tidak perlu menanggung semuanya sendirian. Dan dengannya, aku merasa aman.
Di tengah-tengah menuliskan harapan seindah itu, mendadak ada rasa
segan dan ketakutan kecil yang menelisik pelan: Sudikah Allah mengabulkan
harapanku ini? Apakah aku benar-benar punya kesempatan untuk mendapatkan tempat
tenang berbentuk manusia itu?
Tapi ya namanya juga isi kepala lagi penuh, sehabis mikir sedalemmm
dan semellow itu, ngetik ini malah refleks senyum-senyum sendiri wkwkwk 😠Lagian
penyakit "pengen ndue bojo" ini kan emang dasarnya cuma kumat
pas kepalaku lagi spaneng-spanengnya aja. Kalau pikiran lagi adem dan oke-oke
aja, ya aku balik normal lagi, enggak yang kebelet atau kepengen banget wkwkwk.
Pas kepalaku mulai adem dan isi otakku kembali jernih, cara
berpikirku balik realistis. Aku tahu betul, realitanya ga akan pernah semulus
dan sesimpel itu. Melihat pasangan di sekitarku entah itu tetangga, teman, atau
bahkan keluarga, kehidupan after married punya tingkat kerumitannya sendiri.
Nasihat dari temen-temen yang sudah menikah pun selalu terngiang: kalau mau
nikah, harus siap jiwa dan raga, dan harus paham betul tugas serta tanggung
jawab masing-masing.
Aku setuju banget sama nasihat itu. Bahkan, ada satu nasihat umum
dari Pak Nakhoi, salah satu dosenku, yang bikin cara pandangku tentang
pernikahan makin terbuka:
"Menikah itu menyatukan egoisme istri dan egoisme suami
menjadi altruis suami-istri. Dalam bahasa lain, menikah itu menyatukan 'ana'
istri (saya) dan 'ana' suami (saya) menjadi 'nahnu' (kita suami istri)."
Nasihat itu beneran kena banget. Ternyata nikah tuh bukan cuma soal
"nyari tempat bersandar" atau nuntut ini-itu, tapi soal dua orang
yang sama-sama mau nurunin ego. Dari yang tadinya mikirin "aku" dan
"aku”, jadi belajar mikirin "kita". Paham hak dan kewajiban
masing-masing, plus siap capek bareng buat ngadepin ribetnya hidup. Walaupun
aku tahu ga bakal ada orang yang bener-bener siap 100% buat nikah, seenggaknya
aku mau usaha buat nyiapin diri sebaik mungkin sebelum melangkah.
Keinginan absurd "pengen nikah aja" itu murni cuma
muncul pas kepalaku lagi rungsek parah. Kalau lagi oke-oke aja, ya aku bakal
berpikir sangat rasional dan ga sembarangan wkwkwk. Suka mikir juga, apa semua
orang punya pelarian pikiran se-random ini pas lagi overload, atau cuma aku aja
yang begini?
Di balik semua kerandoman isi kepalaku ini, aku tetep punya doa
jujur yang selalu kusimpan rapi:
Untuk calon suamiku di masa depan, jodoh dunia akhiratku...
Aku adalah badai cerita; semoga kau adalah dermaga yang rela
menampung riuhnya.
Semoga saat takdir akhirnya mempertemukan kita, kita sama-sama
sudah selesai dengan 'ana' kita masing-masing, siap bertumbuh menjadi 'nahnu'
yang saling menyembuhkan, bukan saling membebani.
Sampai hari itu tiba, sebelum tempat tenang berbentuk manusia itu
beneran datang, akan kuatur dulu keriuhan isi kepalaku ini. Akan kuselesaikan
semuanya, segala urusan, dan kerumitan yang masih menumpuk, sampai aku
benar-benar siap.
Supaya kelak ketika kita bertemu, aku datang sebagai rumah yang
sudah rapi dan hangat, bukan bangunan retak yang minta diperbaiki orang lain.
So, dear brain, please be nice ya... kita selesain satu per satu
pelan-pelan. ✨
Komentar
Posting Komentar